Kamis, 10 September 2015

11 PILAR PENGELOLAAN KARYAWAN YANG SERING DILALAIKAN PENGUSAHA

 
Sebagian besar dari kita selalu merasa sakit kepala jika sudah dihadapkan pada cara mengelola karyawan. Padahal yang membutuhkan jasa karyawan ya kita sendiri. Jika karyawan sulit diatur atau tidak bekerja semestinya, berarti ada sesuatu yang salah pada manajemen perusahaan kita. Hal yang paling mudah ditemukan adalah tidak adanya sistem pengelolaan karyawan yang memadai.
Dibandingkan dengan sistem produksi, sistem pemasaran atau sistem keuangan, sistem pengelolaan karyawan memang dapat dikatakan lebih njlimet. Ini dapat dimaklumi mengingat yang diatur adalah manusianya.

1. Membuat Visi & Misi Usaha
Karyawan adalah orang yang asing bagi usaha kita. Mereka masuk ke perusahaan kita dengan tujuan untuk bekerja, tidak mengetahui sama sekali maksud dan tujuan kita mendirikan usaha itu. Jika kita tidak memiliki visi dan misi yang dapat dibaca dan dimengerti para karyawan kita, maka mereka hanya akan bekerja menuruti perintah kita saja tanpa pernah berusaha bekerja untuk mencapai tujuan sebenarnya yang kita inginkan. Sebuah usaha tanpa visi dan misi ibarat seorang sopir yang membawa kendaraannya tanpa tahu pemberhentian selanjutnya.
2. Membuat Struktur Organisasi Usaha
Bisnis tidak sama dengan dagang. Dagang bisa kita tangani sendiri, namun bisnis memerlukan organisasi bisnis. Supaya teratur, organisasi bisnis tersebut perlu dibuatkan struktur organisasinya. Struktur organisasi itu bisa dibuat yang paling sederhana hanya terdiri dari 3 orang sampai struktur organisasi perusahaan besar yang melibatkan ratusan orang didalamnya. Struktur organisasi usaha memperjelas posisi/kedudukan karyawan dan garis komandonya. Tujuannya adalah efektifitas kinerja masing-masing karyawan.
3. Membuat Deskripsi Pekerjaan Karyawan
Jika posisi karyawan sudah ditentukan dalam struktur organisasi usaha, maka langkah selanjutnya adalah membuat deskripsi pekerjaan karyawan. Pada usaha kecil dan menengah seringkali pekerjaan karyawan tidak jelas, mereka mengerjakan apa saja yang kita perintahkan. Dalam jangka pendek, mungkin hal ini menguntungkan kita. Namun dalam jangka panjang pada saat perusahaan kita mulai besar, akan menimbulkan ketidakprofesionalan kinerja. Jadi susunlah deskripsi pekerjaan karyawan dan buatlah mereka paham sehingga mampu menerapkan dalam pekerjaannya sehari-hari.
4. Membuat Peraturan Perusahaan
Banyak usaha yang didirikan dan dibesarkan oleh pemiliknya hanya mengikuti arus air mengalir saja. Usaha-usaha seperti ini cenderung sulit berkembang karena hambatan manajerial. Untuk itulah kita sebagai pemilik harus tanggap untuk mulai mengatur internal perusahaan kita. Tulis saja batasan-batasan apa saja yang harus dipatuhi karyawan. Lama kelamaan tulisan kita ini akan membentuk peraturan perusahaan. Tujuannya adalah untuk mengatur kinerja karyawan dan mengarahkan kinerja mereka untuk mencapai visi dan misi usaha kita.
5. Membuat Peraturan Disiplin Karyawan
Karyawan itu manusia biasa dari berbagai latar belakang. Di Indonesia, etos kerja dan kedisiplinan menjadi penghambat utama kemajuan. Mayoritas karyawan hanya menunggu gaji bulanan dan seringkali mengabaikan kewajiban. Untuk itulah diperlukan aturan disiplin karyawan. Tujuannya adalah supaya kita tidak rugi menggaji mereka dan mereka bisa memanfaatkan waktu kerja yang tersedia untuk menghasilkan karya. Tanpa aturan disiplin ini, kita akan kesulitan mengatur karyawan jika jumlahnya lebih dari 10 orang.
6. Membuat Kontrak Kerja Karyawan
Jangan pernah mengangkat karyawan tetap kalau kita sendiri tidak bisa menjamin produktifitas karyawan tersebut. Produktifitas kita itu makin lama makin menurun. Padahal produktifitas perusahaan makin lama harus makin meningkat. Disinilah diperlukan sarana untuk mengikat produktifitas karyawan tersebut dengan kontrak kerja karyawan. Tanpa kontrak kerja, kita akan kesulitan memisahkan hak dan kewajiban mereka, khususnya yang berkaitan dengan produktifitas dan gaji (kesejahteraan karyawan).
7. Membuat Sistem Penghargaan & Hukuman (Reward & Punishment)
Peraturan disiplin saja tidak cukup untuk menghasilkan kinerja yang luar biasa produktif. Di Indonesia ada pemeo yang mengatakan bahwa aturan itu dibuat untuk dilanggar. Supaya perusahaan tidak merugi, buatlah sistem penghargaan dan hukuman yang jelas. Karyawan yang produktif sesuai target perusahaan akan mendapatkan reward. Sedangkan karyawan yang tidak produktif atau melakukan pelanggaran/kejahatan akan mendapatkan punishment. Kejelasan reward & punishment ini mampu mendongkrak produktifitas karyawan.
8. Membuat Sistem Promosi & Demosi
Bekerja terus menerus pada satu bidang dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan kejenuhan. Kejenuhan awal dari menurunnya produktifitas. Untuk menghindari hal ini perlu dibuat sistem promosi atau demosi. Promosi diberikan kepada karyawan yang berprestasi tinggi dan banyak menyumbangkan keuntungan bagi perusahaan. Sedangkan demosi diberikan kepada karyawan yang produktifitasnya rendah. Promosi dan demosi berkaitan langsung dengan struktur organisasi perusahaan.
9. Membuat Sistem Regenerasi & Kaderisasi
Kita makin lama makin tua dan akhirnya akan mati. Apakah jika kita tua dan mati perusahaan kita ikut-ikutan mati? Kita semua berharap usaha kita akan hidup dalam jangka panjang. Untuk itu perlu dibuat system regenerasi dan kaderisasi karena keturunan kita sendiri belum tentu becus menjalankan usaha yang sudah kita rintis dengan susah payah.
10. Membuat Sistem Gaji & Kesejahteraan Karyawan
Jika kita berpikir bahwa karyawan kita patuh pada kita dan akan menyelesaikan pekerjaan dengan baik, maka kita keliru. Yang ada di kepala karyawan itu adalah kapan gajian, kapan gajinya naik, dan kapan dapat bonus diluar gaji! Gaji adalah hal yang utama bagi karyawan. Untuk mendapatkan produktifitas mereka, kita harus mampu memenuhi harapan mereka akan gaji dan kesejahteraan karyawan. Kita harus mampu membuat sistem gaji dan kesejahteraan yang dinamis mengikuti produktifitas dan pertumbuhan perusahaan. Cara ini sangat elegan karena baik perusahaan, pengusaha maupun karyawan sama-sama diuntungkan.
11. Membuat Prosedur Standar Operasi (SOP)
Turn over karyawan tidak dapat dihindari. Kesulitan utama pada saat terjadinya turn over karyawan adalah merekrut tenaga kerja baru dan melatihnya dari nol lagi. Jika hal ini terlalu sering terjadi, maka usaha kita tidak akan bertumbuh. Kita harus menciptakan sebuah system mampu mempertahankan produktifitas meskipun karyawannya berganti. Inilah yang disebut Standard Operating Procedure (SOP). Dengan menggunakan SOP, kita dapat menghemat waktu untuk melakukan perekrutan dan pelatihan karyawan dan dijamin karyawan yang baru dapat menghasilkan karya yang diinginkan perusahaan.


CATATAN :
Artikel ini ditulis Suryono Ekotama pada bulan Januari 2009 & pernah dikirimkan ke Majalah MitraSukses. Artikel ini telah mengalami re-editing pada tanggal 31 Agustus 2009. Publikasi dalam website ini bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan tentang trik & strategi bisnis kepada siapapun dan dimanapun berada untuk memajukan bangsa Indonesia.


Selasa, 08 September 2015

Menjaga Motivasi Karyawan




Salah satu kunci penting memotivasi karyawan adalah menghindari tindakan-tindakan yang membunuh motivasi karyawan. Ini berarti, memotivasi karyawan tidak cukup hanya dengan mendorong karyawan berperilaku motivatif, tetapi juga menjaga diri anda, sebagai seorang manajer, untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat mematahkan semangat karyawan. Sikap negatif anda dapat menghalangi sesuatu positif dari orang lain.

Ada banyak hal yang dapat mengendurkan motivasi karyawan. Yang terpenting berasal dari anda sendiri. Berikut beberapa tips beberapa tindakan yang perlu anda ingat-ingat, karena bila tidak, anda dapat menjatuhkan motivasi karyawan.

1. Jangan mengkritik karyawan di hadapan orang lain.

Ini adalah pembunuh motivasi nomor satu. Jangan permalukan karyawan di hadapan orang lain. Meski anda mengatakan sesuatu yang menurut anda benar, namun mengkritiknya di depan umum, dapat melukai perasaannya. Kritik anda dapat meninggalkan bekas luka dalam yang mengubah motivasi menjadi sakit hati dan dendam berkepanjangan.

2. Jangan menghina/merendahkan karyawan.

Melontarkan kata-kata seperti, "bodoh", "goblok", atau kata-kata penuh hinaan lain adalah tindakan yang harus dihindari jauh-jauh. Berhati-hatilah dengan perkataan anda. Jangan sepelekan orang lain. Mereka takkan melakukan sesuatu yang anda inginkan dengan baik jika anda sendiri menganggap mereka tidak becus.

3. Jangan menganggap karyawan sebagai alat.

Sebagai manajer, anda memang menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan. Namun, jika anda bersikap seolah-olah memperalat karyawan demi tujuan anda sendiri, anda akan kehilangan simpati dan motivasi karyawan untuk mau bekerja pada anda. Libatkan karyawan pada tujuan bersama. Tunjukkan bahwa anda bersama mereka sedang mencapai tujuan demi keberhasilan bersama.

4. Jangan berlaku tidak adil.

Adalah wajar jika anda senang pada karyawan-karyawan terbaik anda. Namun itu bukan alasan untuk berlaku tidak adil. Perlakuan diskriminatif mudah sekali menjatuhkan semangat seluruh karyawan. Terlebih lagi bila anda tak sadar sedang "dijilat" oleh karyawan yang anda sukai.

5. Jangan hanya memikirkan diri sendiri.

Bagaimana perasaan anda saat mendengar atasan membanggakan dan memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Anda mungkin merasa direndahkan secara tak langsung. Atau anda mungkin merasa atasan anda sedang mengambil keuntungan dari anda. Maka, itu pulalah yang dirasakan oleh karyawan anda jika anda hanya berpusat pada diri sendiri dan tak memberikan perhatian pada mereka.

6. Jangan ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Karyawan membutuhkan sebuah keputusan yang tegas, segera, namun bijaksana dari atasannya. Jika anda tampak bimbang dengan keputusan anda sendiri, karyawan akan merasa lebih bimbang lagi. Ini cepat sekali menjegal motivasi. Bukan hanya itu, mereka mungkin tak lagi mempercayai kemampuan diri mereka sendiri juga anda.

7. Jangan melemparkan tanggung jawab.

Tugas manajer adalah membimbing karyawan agar lebih baik dan berhasil. Salah satunya adalah dengan mendelegasikan wewenang. Tapi itu bukan berarti anda terlepas dari tanggung jawab atas tugas tersebut. Melemparkan tanggung jawab dapat meruntuhkan kepercayaan mereka pada anda sebagai seorang pemimpin. Di saat-saat sulit, tunjukkan tanggung jawab anda. Ini menumbuhkan hormat pada anda.

8. Jangan kaku, namun jangan turunkan standar kualitas anda.

Situasi tidak selalu berjalan sebagaimana diharapkan. Anda harus bersikap tegas, namun jangan diartikan sebagai sikap kaku. Terbuka dan terimalah masukan-masukan dari karyawan anda. Namun, anda tetap harus menjaga standar kualitas yang anda inginkan. Jika anda toleran terhadap sebuah kelemahan, anda menurunkan moral karyawan lain yang memiliki inisiatif tinggi.

9. Jangan menunjukkan ketidakpercayaan.

Kunci memotivasi orang adalah memberikan kepercayaan pada mereka. Sebaliknya, mematikan motivasi karyawan paling mudah dilakukan dengan mencabut kembali kepercayaan itu. Sepatah ucapan yang menunjukkan ketidakpercayaan sudah cukup untuk menyingkirkan motivasi mereka.

10. Jangan acuh tak acuh pada karyawan.

Jika anda ingin meruntuhkan motivasi karyawan, jangan berikan perhatian apa pun pada mereka. Jangan beri umpan balik. Jangan ingat kejadian-kejadian penting dalam hidup mereka. Jangan berikan waktu bagi mereka untuk berbincang-bincang. Jauh lebih mudah mematahkan semangat, ketimbang membangunnya. Untuk itu, hindari hal-hal yang bisa membunuh motivasi karyawan. Dan itu, berarti menjaga tindakan anda sendiri.

Semoga bermanfaat!!

Have a positive day!