Senin, 31 Agustus 2015

Mengelola Karyawan Dengan Baik

Mengelola orang  lebih banyak seninya dibandingkan dengan   ilmu. Tidak ada rumus rahasia atau seperangkat aturan untuk diikuti . Seperti seni sejati, dibutuhkan gaya pribadi dan komitmen tanpa henti untuk mengembangkan seni itu.


Berikut beberapa trik atau tipsnya:
1.       Bebaskan pikiran Anda dari kata manajer dan menggantinya dengan pemimpi.
Pemimpin tidak memerlukan gelar atau promosi, mereka adalah orang-orang yang menginspirasi dan memotivasi tanpa memperhatikan pengaturan atau tim.
2.       Pertahankan  rasa humor yang baik.
Ini membuat Anda didekati dan membantu Anda menjaga perspektif. Jangan membuat diri Anda  terlalu serius. Pada suatu waktu, semua orang menempatkan celana mereka pada satu kaki.
3.       Ingat bahwa direct report  Anda adalah orang.
Mereka bukan resources  dan mereka bukan human capitol. Mereka adalah orang dengan keluarga, perasaan, dan masalah. Hal ini tidak memungkinkan mereka  bekerja terpisah dari kehidupan rumah. Sadarilah bahwa orang memiliki kehidupan pribadi dan melakukan yang terbaik,  Anda harus bisa peka terhadap mereka. Perlakukan semua orang dengan sama terlepas dari gelar  atau posisi mereka. Ingatlah untuk banyak tersenyum dan selalu mempertahankan sikap yang menyenangkan.
4.       Tahu kekuatan dan kelemahan.
Mengetahui kekuatan tim Anda serta kelemahan dan sesegera mungkin untuk melakukan perbaikan.
5.       Memiliki rencana yang jelas tentang apa yang perlu dilakukan.
Jika gagal untuk merencanakan, Anda sudah berencana untuk gagal. Tetapkan tujuan jangka panjang dan pendek.
6.       Menjadi penentu.
 Ketika ditanya  pendapat Anda, Anda harus memiliki itu setelah dipikirkan dengan baik dan menyampaikannya secara persuasif. Anda tidak harus wafel atau stall baik untuk keputusan besar, menetapkan tenggat waktu, dan memiliki keputusan {cepat] pada saat itu. Jika seseorang menawarkan sebuah argumen yang meyakinkan Anda untuk mengubah keputusan, akui  dan rangkul ide baru sepenuhnya.
7.       Komunikasikan harapan Anda.
Tempatkan itu, jika memungkinkan, dalam tulisan kepada mereka. Kumpulkan umpan balik dari orang-orang yang Anda pimpin. Tahu apa yang mereka harapkan dari Anda. Tunjukkan setiap perbedaan langsung dan jelas.
8.       Memiliki pemahaman yang jelas dalam pikiran Anda sendiri mengenai hal-hal yang dapat Anda ubah  dan hal-hal  yang  tidak bisa.
Pusatkan semua upaya Anda pada hal-hal yang dapat Anda ubah. Orang yang selalu  berorientasi pada aksi  dicari dan sukses.
9.       Ingatlah bahwa untuk memotivasi orang yang bebreda  dengan hal yang berbeda  dan  orang akan melakukan apa dapat dilakukan miliki insentif.
Ini adalah tugas Anda untuk memastikan bahwa insentif mereka sesuai dengan tujuan Anda.
10.   Menjaga kepercayaan setiap orang dalam organisasi.
Manajer sering memiliki akses ke informasi lebih banyak dari karyawan lain. Sangat penting bahwa Anda tidak pernah mengkhianati kepercayaan dari perusahaan, manajer Anda, rekan-rekan Anda, atau karyawan Anda. Pastikan bahwa orang bisa curhat dengan Anda.
11.   Jadilah Konsisten.
Tindakan dan reaksi Anda harus konsisten. Anda jangan   menjadi tipe manajer yang inginnya  setiap orang  bertanya  tentang suasana hati  Anda sebelum mereka mendekati Anda dengan masalah.
12.   Menjadi fleksibel sangat penting dan jangan bertentangan dengan konsisten.
Anda harus tetap fleksibel untuk mengubah arah, mengubah aturan  , dan mengubah  sumber daya agar tetap kompetitif.
13.   Hanya fokus pada solusi,  bukan pada masalah.
Orang-orang tertarik ke arah solusi yang berorientasi ke individu.
14.   Hire perlahan dan bakar dengan cepat.
Anda berikan waktu  untuk mempekerjakan orang-orang berkualitas baik. Mewawancarai orang-orang dan melakukan pengecekan latar belakang menyeluruh. Ketika Anda mempunyai orang yang memiliki kepribadian mengganggu atau orang  gagal untuk melakukan yang Anda butuh ambil  langkah untuk menyingkirkan mereka secepat mungkin.


sumber : http://manajemen.bisnis.com/read/20130719/56/151764/14-kiat-mengelola-karyawan-atau-orang

Senin, 24 Agustus 2015

Semua Jadi Mudah dan Cepat dengan Software Penggajian (Payroll)

Apakah kantor tempat Anda bekerja saat ini sudah menggunakan software penggajian untuk mendukung sistem payroll dalam melakukan pembayaran gaji karyawan setiap bulannya ? Apakah Anda sudah memahami kata “payroll” itu ? Dan apa manfaat dari sistem payroll tersebut ? Payroll sendiri berasal dari kata bahasa Inggris, di mana artinya adalah daftar gaji. Jadi untuk sistem payroll bisa diartikan sebagai sebuah sistem administrasi penggajian yang secara rutin dilakukan dan bagian penting untuk sebuah perusahaan yang punya karyawan.
Payroll sendiri memang sangat jelas, yaitu sistem yang membantu dalam mengatur, mengelola, menghitung, dan sekaligus membantu dalam menentukan gaji setiap karyawannya. Selain itu sistem payroll juga bisa untuk digunakan sebagai metode dalam perhitungan untuk pajak penghasilan setiap karyawannya (PPH21). Jadi, cukup rumit bukan sistem payroll tersebut dan bayangkan jika itu dilakukan dengan manual. Oleh karena ini, kini banyak tersedia software penggajian karyawan yang bisa digunakan untuk lebih mempermudah sistem payroll tersebut.

Software penggajian sendiri tercipta dari adanya perkembangan sebuah metode administrasi manual berubah ke sistem administrasi yang lebih praktis, mudah, cepat dan modern. Software penggajian membuat sistem payroll terkomputerisasi dalam bentuk sebuah aplikasi penggajian atau disebut program penggajian. Dengan penggunaan aplikasi penggajian karyawan ini sangat efisien dan juga menguntungkan untuk perusahaan. Sebuah perusahaan tentu tidak dapat berkembang jika tanpa didukung penuh oleh sistem administrasi yang memadai.

Oleh karena itu, penggunaan software penggajian karyawan ini harus bisa dimanfaatkan secara maksimal, sehingga bisa memberikan kepuasaan karyawan akan besaran jumlah gaji yang sesuai dengan kinerja karyawan itu sendiri. Adapun manfaat lainnya dari penggunaan software penggajian karyawan ini diantaranya seperti

  • Proses pencatatan detail mengenai rekap gaji setiap karyawan akan tersusun rapih dan sesuai dengan kinerja karyawan tersebut. Mulai record absensi, rincian lembur, uang makan dan beberapa komponen lain ada dalam perhitungan gaji akan lebih terinci.
  • Laporan tentang informasi gaji seluruh karyawan bisa diupdate secara berkala dan terlihat lebih detail. Hal ini juga menyangkut dalam pengambilan keputusan untuk kenaikan gaji yang akan diterima setiap tahunnya.
  • Adanya software penggajian karyawan ini, slip gaji yang digunakan sebagai bukti pemberian gaji pun akan lebih mudah dalam proses pencetakan. Selain itu pencarian data slip gaji pun akan lebih mudah dicari karena sudah ter-record dengan baik dalam aplikasi tersebut.
  • Mengurangi kesalahan dalam perhitungan gaji. Bisa saja terjadi kesalahan dalam proses perhitungan gaji dikarenakan masih menggunakan sistem manual dan komponen yang masuk dalam hitungan cukup banyak.

 sumber : http://apuy-puye.com/pakai-software-penggajian-semua-jadi-mudah-dan-cepat/


    Kamis, 06 Agustus 2015

    7 Hambatan Untuk Menjadi Kreatif




    Siapa bilang kreativitas hanya milik para seniman?
    Siapa bilang kreativitias hanya milik orang muda?
    Siapa bilang orang sukses saja yang kreatif?

    Menurut Carol K Bowman (Creativity in Business), setiap orang memiliki kreativitas. Bahkan, mereka yang sudah di atas 45 tahun sekalipun masih dianugerahi kemampuan untuk menjadi kreatif. Pendeknya, selama otak masih berfungsi, kreativitas masih mengalir dalam diri seseorang. Lalu, jika demikian mengapa banyak orang belum mampu memanfaatkan kreativitas mereka secara optimal? Ternyata ada banyak hambatan untuk menjadi kreatif, 7 diantaranya dapat Anda simak disini. Kenali hambatan-hambatan tersebut, siapa tahu beberapa diantaranya dapat Anda temukan disini? Lalu ambilah strategi dan tindakan untuk mengasah kembali daya kreativitas Anda.

    Hambatan 1: Rasa Takut

    “Mengapa kamu tidak mencoba cara baru saja untuk menyelesaikan pekerjaan ini dengan lebih cepat?”
    “Ah, saya takut gagal. Kalau saya gagal atau salah, saya pasti dimarahi, bos! Jadi lebih baik saya kerjakan saja sesuai dengan yang diperintahkan.”
    Yah, rasa takut gagal, takut salah, takut dimarahi, dan rasa takut lainnya sering menghambat seseorang untuk berpikir kreatif. Tahukah Anda bahwa Abraham Lincoln sebelum menjadi presiden, berkali-kali kalah dalam pemilihan sebagai senator dan juga presiden? Tahukah Anda bahwa Spence Silver (3M) yang gagal menciptakan lem kuat, akhirnya menemukan `post-it’ notes?


    Hambatan 2: Rasa Puas

    “Mengapa saya harus coba sesuatu yang baru? Dengan begini saja saya sudah nyaman.” “Saya sudah sukses. Apa lagi yang harus saya cemaskan?”
    Ternyata bukan masalah saja yang bisa menjadi hambatan. Kesuksesan, kepandaian dan kenyamananpun bisa jadi hambatan. Orang yang sudah puas akan prestasi yang diraihnya, serta telah merasa nyaman dengan kondisi yang dijalaninya seringkali terbutakan oleh rasa bangga dan rasa puas tersebut sehingga orang tersebut tidak terdorong untuk menjadi kreatif mencoba yang baru, belajar sesuatu yang baru, ataupun menciptakan sesuatu yang baru.
    Apple Computer yang pernah menjadi nomor satu sebagai produsen komputer, pernah tergilas oleh para pemain baru di industri ini karena Apple telah terpaku pada keberhasilannya sebagai yang nomor satu, sehingga menjadi lengah untuk menawarkan sesuatu yang baru pada target pasar sampai perusahaan ini terhenyak dengan munculnya pesaing yang berhasil menggeser kedudukan Apple. Namun, belajar dari kesalahan, Apple berusaha bangkit kembali dengan produk-produk baru andalan mereka.


    Hambatan 3: Rutinitas Tinggi

    “Coba-coba yang baru?
    Aduh mana sempat? Pekerjaan rutin saja tidak ada habis-habisnya.”
    Apakah kalimat ini pernah Anda ucapkan? Jika ya, berarti rutinitas pernah menjadi hambatan bagi Anda untuk memanfaatkan kemampuan Anda untuk berpikir kreatif. Mungkin Anda perlu menyisihkan waktu khusus untuk mengisi `kehausan’ Anda akan kreativitas, misalnya baca buku tiap minggu (anda bisa menemukan ide brilian yang bisa Anda adaptasi, atau perbaiki), perluas lingkungan sosial Anda dengan mengikuti perkumpulan- perkumpulan di luar pekerjaan Anda (siapa tahu Anda bertemu dengan orang-orang yang bisa mendukung Anda ke jenjang sukses).
    Tahukah Anda bahwa Mariah Carey sengaja menyisihkan waktu dari kegiatan rutinnya sebagai penyanyi latar untuk memperluas pergaulannya? Mariah berusaha masuk ke lingkungan pergaulan para petinggi di dunia musik internasional sebelum akhirnya bertemu dengan produser musik yang bersedia mensponsori album pertamanya yang langsung menjadi hit dunia?


    Hambatan 4: Kemalasan Mental

    “Untuk mencoba yang baru berarti saya harus belajar dulu. Aduh, susah. Terlalu banyak yang harus saya pelajari. Biar yang lain saja yang belajar.”
    “Memikirkan cara lain? Wah, sekarang saja sudah banyak yang harus saya pikirkan. Lagipula memikirkan cara baru bukan tugas saya, biarlah atasan saya saja yang memikirkannya.”
    Ini merupakan beberapa contoh kemalasan mental yang menjadi hambatan untuk berpikir kreatif. Tidak heran jika orang yang malas menggunakan kemampuan otaknya untuk berpikir kreatif sering tertinggal dalam karir dan prestasi kerja oleh orang-orang yang tidak malas untuk mengasah otaknya guna memikirkan sesuatu yang baru, ataupun mencoba yang baru.
    Tahukah Anda bahwa Thomas Alva Edison tidak berhenti berusaha untuk memikirkan cara yang lebih baik dari eksperimen sebelumnya sampai puluhan kali sebelum akhirnya ia menemukan lampu pijar? Bayangkan apa yang akan terjadi jika pada kegagalan pertama, Edison malas berpikir untuk mengasah kreativitasnya dan melanjutkan ke eksperimen-eksperim en berikutnya?


    Hambatan 5: Birokrasi

    “Saya bosan menyampaikan ide lagi. Ide saya yang enam bulan lalu saya sampaikan, belum ada kabarnya apakah diterima atau tidak?”
    Seringkali karyawan atau pelanggan mengeluh karena ide atau usulan mereka tidak ditanggapi. Hal ini bisa saja terjadi karena proses pengambilan keputusan yang lama, atau karena proses birokrasi yang terlalu berliku-liku. Kondisi seperti ini sering mematahkan semangat orang untuk berkreasi ataupun menyampaikan ide dan usulan perbaikan. Biasanya semakin besar organisasi, semakin panjang proses birokrasi, sehingga masalah yang terjadi di lapangan tidak bisa langsung terdeteksi oleh top management karena harus melewati rantai birokrasi yang panjang. Belajar dari pengalaman dan hasil studi di bidang manajemen, banyak organisasi dunia yang sekarang memecah diri menjadi unit-unit bisnis yang lebih kecil untuk memperpendek birokrasi agar bisa lebih gesit dalam berkreasi menampilkan ide-ide segar bagi para pelanggan ataupun dalam kecepatan mendapatkan solusi.


    Hambatan 6: Terpaku pada masalah

    Masalah seperti kegagalan, kesulitan, kekalahan, kerugian memang menyakitkan. Tetapi bukan berarti usaha kita untuk memperbaiki ataupun mengatasi masalah tersebut harus terhenti. Justru dengan adanya masalah, kita merasa terdorong untuk memacu kreativitas agar dapat menemukan cara lain yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif.
    Tahukah Anda bahwa Colonel Sanders menghadapi kesulitan dalam menjual resep ayam goreng tepungnya? Namun, ia tidak terpaku pada kesulitan tersebut, ia memanfaatkan kreativitasnya sampai akhirnya ia mendapat ide untuk menggunakan sendiri resep tersebut dengan mendirikan restoran cepat saji dengan menu utama ayam goreng tepung. Idenya ini terbukti manjur membukukan suksesnya sebagai salah satu pebisnis waralaba terbesar didunia.


    Hambatan 7: “Stereotyping”

    Lingkungan dan budaya sekitar kita yang membentuk opini atau pendapat umum terhadap sesuatu (stereotyping) bisa juga menjadi hambatan dalam berpikir kreatif. Misalnya saja pada zaman Kartini, masyarakat menganggap bahwa sudah sewajarnyalah jika wanita tinggal di rumah saja, tidak perlu pendidikan tinggi, dan hanya bertugas untuk melayani keluarga saja, tidak usah berkarir di luar rumah. Apa jadinya jika wanita-wanita hebat seperti Kartini, Dewi Sartika, Tjut Njak Dhien menerima saja semua pandangan umum yang berlaku di masyarakat saat itu? Mungkin Indonesia tidak akan pernah menikmati jasa yang diperkaya oleh keterlibatan para wanita profesional, misalnya: mendapatkan layanan dokter wanita, menikmati kreasi arsitek dan seniman wanita, mendapatkan hasil didikan guru wanita, mengirim diplomat wanita sebagai duta Indonesia, atau bahkan dipimpin oleh seorang presiden direktur, bahkan presiden (pimpinan negara) wanita.


    Kreativitas memang masih harus ditunjang dengan senjata sukses lainnya. Tetapi, orang yang memiliki dan bisa mengoptimalkan kreativitas mereka bisa menggeser mereka yang tidak memanfaatkan kreativitas mereka. Lalu, bagaimana jika Anda mengalami hambatan untuk mengoptimalkan kreativitas Anda? Tidak perlu panik. Kenali hambatannya, atasi, dan ambil tindakan untuk mengasah kembali kreativitas Anda. Kreativitas itu ibarat sebuah intan, semakin diasah semakin berkilau. Jadi sudah siapkah Anda untuk membuat kreativitas Anda agar semakin berkilau?


    Source: Prof. Roy Sembel,
    Direktur MM Finance and Investment, Universitas Bina Nusantara